Kemal Attaturk, Perjuangan Melawan Sekutu dan Pembaharuannya Dalam Bidang Hukum dan Pendidikan

BAB I

Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

Sejarah selalu melahirkan tokoh-tokoh kontroversial yang akan selalu dikenang sepanjang masa. Meski dalam periode yang berbeda namun banyak sekali kesamaan-kesamaan, baik dari segi sikap kontroversial, loyalitas maupun hal lain antara satu tokoh dengan tokoh lain yang sama-sama menjadi founding father bagi negaranya masing-masing. Salah satu contoh adalah Turki yang memiliki tokoh yang muncul karena pembaharuan yang terjadi di negara itu.

 Pembaharuan kerajaan Turki Usmani periode modern dipelopori oleh Sultan Mahmud II (1785-1839). Sultan yang berjiwa pembaharu ini mendorong pemikiran modern di kerajaan Turki Usmani yang ditandai dengan munculnya putra-putri Turki yang berpendidikan Barat modern yang memunculkan ide-ide baru. Seperti golongan Tanzimat, golongan Usmani Muda, golongan Nasionalisme Turki, golongan Islamisme dan golongan Westernisasi. Walaupun tiap-tiap golongan mempunyai corak yang berbeda namun mereka memiliki satu tujuan yaitu untuk menjadikan Turki sebagai sebuah negara yang maju dan modern. Salah satu dari golongan tersebut muncul Mustafa Kemal Pasha,  tokoh nasionalis muda Turki yang menyelamatkan Turki dari kehancuran dan berhasil mengusir Yunani dari tanah Turki. berkat bakat kepemimpinannya dan kecemerlangan ide-ide politiknya , ia memproklamirkan Turki sebagai sebuah negara Republik dan ia dipilih sebagai presiden pertama oleh Majelis Nasional Agung. Gerakan Kemal  dikatakan dalam sejarah sebagai puncak dari usaha pembaharuan Turki.

BAB II

Isi

 

2.1 Riwayat Hidup dan Perjuangannya

Mustafa Kemal Pasha Attatürk dikenal sebagai salah satu tokoh diktator yang banyak dicintai sekaligus dibenci oleh rakyat Turki pada khususnya. Namun dibalik itu semua modernisasi yang ia lakukan terhadap negaranya patut diberikan apresiasi tersendiri. Ia menjadi salah satu tokoh paling kontroversial yang mempunyai daya tarik yang luar biasa hingga membuat perdebatan para ahli yang kompeten dibidangnyapun seolah tidak berkesudahan sampai sekarang.

Lahir di pada tahun 1881 di suatu daerah Salonika[1]. Ibunya bernama Zubeyda Hanim, ia juga memiliki seorang saudara perempuan yaitu  Makbula Hanim. Ayahnya sendiri, Ali Reza Efendi merupakan pegawai biasa yang bekerja di kantor pemerintahan di kota itu. Ketika dimutasikan ke suatu desa di lereng gunung Olimpus, ia berhenti menjadi pegawai pemerintahan dan beralih menjadi pekerjaan menjadi pedagang kayu. Usahanya ini gagal lalu ia pindah ke pekerjaan lain, namun juga gagal. Dalam sumber kehidupan yang tak menentu ini, ia menjadi seorang peminum berat sebagai pengobat kesedihannya. Malang tak dapat ditolak,  ia ditimpa penyakit tuberkolosis  yang menyebabkan kematiannya ketika Mustafa baru berumur tujuh tahun pada ssat itu.

Berbeda dengan suaminya, Zubeyda Hanim merupakan seorang muslimah yang taat beragama dan selalu memakai Purdah[2], walaupun buta huruf ia selalu berperan selayaknya seorang ibu dan juga merangkap sebagai kepala rumah tangga yang baik dan peduli peduli pada pendidikan anak-anaknya. Karena ketaatannya kepada Islam, ia mengharapkan Mustafa menjadi ulama yang faqih. Namun ternyata Mustafa mempunyai pendirian yang berbeda. Mustafa tumbuh menjadi remaja pemberontak. Ia melawan segala bentuk peraturan, serta bersikap kasar dan kurang ajar kepada gurunya.

Di depan para siswa yang lain, ia menunjukkan sifat yang sangat arogan dan suka menyendiri. Ia tidak mau bermain bersama teman-temannya, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak disukai teman-temannya. Bila merasa diganggu, ia tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melawan.
Suatu kali, karena sikap kasar dan kurang ajar Musthafa, gurunya menjadi gelap mata dan memukuli Mustafa sedemikian keras hingga melukai perasaannya. Mustafa lari dari sekolah dan tidak mau kembali. Meski ibunya berusaha keras membujuk agar kembali ke sekolah, Musthafa sama sekali menolaknya. Zubeyda merasa putus asa, sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akhirnya, datang usulan dari salah seorang pamannya agar memasukkan Musthafa ke sekolah militer di Salonika. Usulan ini berdasarkan pertimbangan bahwa Zubaida tidak perlu mengeluarkan biaya pendidikan –karena sekolah militer itu dibiayai oleh negara, lalu apabila Mustafa bisa menunjukkan prestasi yang bagus, ia bisa menjadi seorang perwira; dan kalaupun tidak ia tetap akan menjadi seorang prajurit. Singkat kata, apa pun yang akan terjadi, kehidupan Mustafa tetap terjamin.

Atas persetujuan orangtuanya  Mustafa pindah ke sekolah modern di Selonika. Selanjutnya, atas usahanya ia masuk ke sekolah militer menengah. Ia lulus ketika berumur 14 tahun. Kemudian ia masuk sekolah Latihan Militer di Monastir, lalu masuk pula pada Sekolah Tinggi Militer tahun 1899.  Begitu berhasil, sehingga salah seorang gurunya memberikan nama Kemal yang berarti “kesempurnaan.” Karena kemahirannya dalam matematika dan dunia kemiliteran, dia dipromosikan menjadi pejabat pengajaran, suatu posisi yang memberikan ia kesempatan untuk menunjukkan kewibawaan. Setelah memperoleh nilai tertinggi dalam ujian akhir, ia dilantik dengan penuh kehormatan pada bulan Januari 1905 dengan pangkat kapten. Akan tetapi ia menyadari bahwa pengetahuan kemiliterannya belum cukup untuk menunjang kemajuan karirnya di masa depan ia mencari nilai tambah pengetahuannya, yaitu mempelajari politik melalui kawannya Ali Fethi[3]. Orang inilah yang mendorong Kemal mempelajari bahasa Prancis., sehingga ia dapat membaca karya-karya Rousseau, Voltaire, Auguste Comte dan lain-lain serta sejarah dan sastra yang menarik minatnya.  Maka ketika masih belajar ia berkenalan dengan Ali Fethi.

Selain itu, pada periode tersebut Mustafa banyak melibatkan diri dalam sebuah perkumpulan mahasiswa nasionalis fanatik yang terkenal dengan nama Vatan atau “tanah air.” Anggota-anggota Vatan membanggakan diri sebagai golongan revolusioner. Mereka menentang rezim yang dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid II. Mereka mengutuk Sultan karena menekan segala pemikiran liberal yang akan menghancurkan kekuasaan islam. Mereka tidak bosan-bosan menuduh Islam sebagai penanggungjawab atas keterbelakangan Turki dan melampiaskan perasaan benci mereka kepada Syari’ah Islam yang mereka anggap kuno dan terhadap tasawuf sebagai bahan ejekan. Anggota-anggota dan perkumpulan ini bersumpah akan menghilangkan kesultanan dan menggantikannya dengan bentuk pemerintahan ala barat lengkap dengan Konstitusi dan Parlemen, menghancurkan kekuasaan ulama  dan menghapuskan Purdah dan Kudung, menyatakan persamaan mutlak antara pria dan wanita. Tidak lama kemudian Mustafa Kemal manjadi pemimpinnya.

Tibalah saatnya kesempatan Mustafa Kemal untuk menyebar-luaskan pengaruhnya, ketika ia diundang oleh sebuah partai kuat, The Committe of Union and Progress[4], untuk bergabung. Hal ini terjadi persis sebelum dijatuhkannya Sultan Abdul Hamid II pada tahun 1908 oleh Turki Muda. Bagaimanapun juga, sebagai pendatang baru dalam partai itu, ia harus tunduk kepada aturan-aturan yang berlaku; tetapi wataknya selalu menghendaki pilihan: apakah ia akan menguasai segalanya atau mundur sama sekali. Dia semakin gelisah dan kecewa, tidak sudi sama sekali menghormati anggota-anggota lama lainnya dan menganggap mereka tidak punya apa-apa. Dia sangat membenci khususnya orang-orang Islam yang taat seperti Perdana Menteri, Putra Mahkota Said Alim Pasha (1865-1921) dan Menteri Peperangan Anwar Pasha (1882-1922). Dengan mereka itulah Kemal senantiasa bertentangan.

Kegiatan politik ini tetap ditekuninya, hingga ia dipenjara beberapa bulan. Setelah dibebaskan, ia bersama temannya Ali Fuad diasingkan ke Suria. Pengalaman tersebut tidak membuat Kemal jera. Ia tetap melakukan aktivitas politik praktis, bahkan kemudia ia dipercaya memimpin operasi-operasi militer. Karir militer dijalani Kemal selain di medan perang juga di meja kantor. Sebagai perwira ia ikut berperang di Tripoli melawan pendukung Italia (1911-1912), perang Darnella (1915), menjadi komandan pasukan dalam perang Kaukasus (1916) dan perang Palestina (1917). Sebagai kehebatannya atas dalam pertempuran, pangkatnya dinaikan dari kolonel menjadi jenderal ditambah dengan gelar Pasha. Pada tahun 1920, Kemal menjadi ketua Majelis Nasional Agung melalui sidangya di Ankara, yang kemudia mengantarkannya menjadi presiden. Pemerintahannya diakui secara de facto dan de jure, baik oleh dunia internasional maupun sekutu setelah menandatangani perjanjian Lausanue pada tanggal 23 juli 1923.

Kemal wafat pada tanggal 10 November 1938 di Istanbul, kepergiannya ditangisi oleh rakyat Turki dan menghembuskan angin pembaharuan melalui ide-idenya.

 

2.2 Pembaharuan di Bidang Hukum dan Pendidikan

Mustafa Kemal mencatatkan namanya dalam sejarah dengan serangkaian pembaharuan revolusioner yang dilakukannya atas negara Turki. Berbagai bidang tidak luput dari bapak bangsa Turki ini, bidang pemerintahan, sosial, budaya, hukum, pendidikan, ekonomi bahkan agama pun mendapatkan pembaharuan. Ia menganggap bahwa Barat adalah contoh model yang ideal bagi pembangunan Turki, karenanya ia ingin menjalankan westernisasi dan sekularisasi dalam segala bidang. Hal ini dilakukan karena Kemal melihat telah mencapai kemajuan di segala bidang, sedangkan Islam, khususnya Turki yang kekuasaannya begitu luas sedang tenggelam dalam kemunduran dan kehilangan pengaruhnya.

Dalam bidang hukum dan pendidikan, Kemal cukup memberikan perubahan berarti daripada yang sebelumnya. Sebagai kelanjutan dari usaha sekularisasinya, Kemal menghapuskan syariat yang semula dibentuk sebagai pengganti Biro Syaikh al-Islam. Kemudian pada tahun 1926 hukum sya’riat diganti dengan Undang-Undang Sipil yang diambil dari Undang-Undang Swiss. Perkawinan bukan lagi dilakukan menurur hukum syariat tapi dilakukan dengan hukum sipil. Selanjutnya dibuat hukum baru seperti Hukum Dagang, Hukum Laut, Hukum Pidana dan Hukum Obligasi yang semuanya diambil dari hukum barat.

Dihapuskannya kementrian syariat ini menurut Serif Merdin bertujuan untuk mempermudah usher untuk menghilangkan artikel-artikel dari konstitusi 1921yang menyatakan Islam sebagai agama negara. Setelah itu, sembilan tahun kemudian ia memasukkan prinsip sekularisme ke dalam konstitusi secara resmi menjadi negara sekuler. Berikut beberapa contoh undang-undang yang di

  1. Undang-undang tentang unifikasi dan sekularisasi pendidikan, tanggal 3 Maret 1924.
  2. Undang-undang tentang pemberhentian petugas jemaah dan makam, penghapusan lembaga pemakaman, tanggal 30 November 1925.
  3. Peraturan sipil tentang perkawinan, tanggal 17 Februari 1926.
  4. Undang-undang penggunaan huruf latin untuk abjad Turki dan penghapusan tulisan Arab, tanggal 1 November 1928.
  5. Undang-undang tentang larangan menggunakan pakaian nasional (pakaian tradisional Islam), tanggal 1934.

Selain itu pada bidang pendidikan, Kemal mengadakan pembaharuan yang sama yaitu mengalami proses sekularisasi. Langkah-langkah pambaharuan dalam bidang pendidikan adalah tanggal 7 Februari 1924 dikeluarkan dekrit yang melepaskan semua unsur keagamaan dari sekolah-sekolah asing. Sebulan kemudian tanggal 1 Maret 1924, diterima ide penyatuan pendidikan dibawah “satu atap” yang berada dibawah naungan kementrian pendidikan yang berarti penghapusan semua bentuk pengawasan yang dilakukan oleh badan-badan Islam terhadap sekolah-sekolah. Simbol-simbol yang menjadi              kebudayaan Islam seperti bahasa Arab, digantikan dengan bahasa Latin. Pada tahun 1930 dan 1933, pendidikan agama ditiadakan di sekolah-sekolah yang berada di perkotaan maupun di pedesaan. Pendidikan agama dialihkan menjadi tanggung jawab orang tua dan lembaga pendidikan imam dan khatib pada tahun 1931. Dua tahun berikutnya Fakultas Teologi di Istanbul juga ditutup.

Upaya reformasi yang dilakukan Kemal di berbagai bidang ini mendapat protes yang sangat keras dari ulama tradisional. Bagaimana tidak, sistem yang telah mengakar bertahun-tahun harus dipaksa berubah sesuai dengan kebijakan Kemal. Islam yang menjadi identitas Turki berganti menjadi sekuler, bebas beragama. Namun pada dasarnya, ia tampaknya yakin bahwa ia tidaklah ingin meghapus syariat Islam secara mendasar di Turki. Kemal lebih menginginkan pemahaman akan agama Islam secara rasional dan lebih realistis.

BAB III

Kesimpulan

 

Mustafa Kemal adalah bapak bangsa Turki yang berkuasa selama 15 tahun. Selama masa kepemimpiannya ia menerapkan ide-ide revolusioner terhadap pembangunan negaranya. Ia menganggap bahwa Barat adalah contoh ideal bagi Turki, penerapan pembaharuan terjadi di segala bidang, bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan juga pendidikan.

Dalam bidang hukum dan pendidikan, Kemal mencoba mencontoh dan menerapkan model Barat, unsur-unsur agama yang selama ini mengakar kuat dalam kedua bidang dicoba untuk dihilangkan, walaupun pada dasarnya tidak hilang sama sekali. Nilai-nilai agama hanya dikikis, seperti dihapuskannya pelajaran agama di sekolah-sekolah namun masih boleh diajarkan oleh orang tua dan lembaga pendidikan iman dan khatib.

Hal ini dibangun atas dasar westernisasi, sekularisasi dan nasionalisme. Dengan kata lain Turki perlu melakukan transformasi dalam setiap aspek agar Turki dapat disebut sebagai negara yang maju dan modern sehingga dapat bersaing dan sejajar dengan negara-negara lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Jameelah, Maryam.1998. Islam and Modernism. M.Yusuf Khan and Sons:Lahore

Lewis, Bernard.1961.The Emergence of Modern Turkey.Oxford University Press: London

Syafe’i Mahmud. 2010. Perkembangan Modern Dunia Islam. CV Yasindo dan Value Press: Bandung

Zurcher, Erick J., Modern History of Turk (Sejarah Modern Turki), Penerjemah Karsidi Diningrat R., Jakarta; Gramedia Pustka Utama, 2003

Sumber Internet

“Para Penghianat Islam: Mustafa Kemal Pasha” dalam  http://www.voa-islam.com/lintasberita/suaraislam/2010/10/25/11273/para-pengkhianat-islam-mustafa-kemal-pasha/  diakses pada 3 Juni 2012


[1] Salonika adalah kota terbesar kedua di Yunani, merupakan ibukota dari Central Macedonia. Sekarang Salonika dikenal sebagai Thessaloniki.

[2] Purdah merupakan pakaian bagi wanita muslim di daerah Persia yang menutupi seluruh tubuh kecuali mata dan tangan. Di Indonesia disebut dengan cadar.

[3] Ali Fethi merupakan seorang politisi, diplomat dan juga kepala militer pada akhir dekade kekuasaan Ottoman.

[4] The Committe of Union and Progress  atau dikenal sebagai İttihat ve Terakki Cemiyeti merupakan organisasi politik yang terlibat dalam penggulingan Kaisar Ottoman. Memiliki hubungan yang erat dengan Turki Muda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: