Resensi “KUBAH” – Ahmad Tohari

 

Image

Penulis     : Ahmad Tohari

Judul        : Kubah

Cetakan   : September 2001, cetakan kedua

Halaman  : 189 halaman

Pertama kalinya pinjam buku ke perpus UI (walaupun sudah 3 tahun kuliah :O), dan buku pertama yang saya pinjam adalah Kubah karya Ahmad Tohari. Sebelumnya, saya pernah membaca “Orang-orang Proyek” karya Tohari juga. Dalam karyanya, Tohari biasa menceritakan realita kehidupan masyarakat kelas bawah, tidak terkecuali “Kubah” ini. 

Buku yang saya baca adalah terbitan kedua, terbitan September 2001, sedangkan terbitan pertama pada Juni 1995. Bukunya kecil, seperti buku-buku novel lainnya, sebanyak 189 halaman dengan cover depan warna merah dan kuning seperti gambar diatas. 

Terdiri dari 11 bagian, Kubah menceritakan kehidupan Karman secara flashback. Karman seorang cerdas dari desa Pegaten terbujuk rayu janji sesat partai komunis. Babak satu menceritakan pembebasan Karman setelah ditahan sebagai tahanan politik di Pulau Buru selama 12 tahun. Ia galau, karena merana setelah lama di bui, dan berbagai persoalan menimpanya selama masa pengasingan. Mulai ditinggal istri yang sudah lama dinikahi dan memiliki 3 anak. hingga ketidakpercayaan dirinya diterima kembali oleh masyarakat Pegaten. 

Lanjut dibagian 2, hingga beberapa bagian berikutnya, Tohari memundurkan jalan cerita, diceritakan bagaimana masa kecil Karman yang susah, hidup tanpa bapak dan harus banting tulang bekerja menjadi pembantu dan pengasuh anak Haji Bakir, tetangganya, orang terkaya dan terpandang di desa Pegaten. Karman kecil menamatkan sekolah hingga tingkat SMP atas bantuan pamannya Hasyim. Tak memiliki biaya yang cukup untuk melanjutkan sekolah, karman berhenti dan atas kebaikan Haji Bakir, ia diterima bekerja di sana. 

Selanjutnya, Karman terbujuk tipu daya Kawan Margo untuk bergabung dengan partai komunis, Margo melihat bahwa Karman adalah pribadi yang cerdas dan dapat dipengaruhi untuk menjadi bagian dari partai. karman gelap mata, ia mulai meninggalkan kebiasaan sholatnya, ajaran-ajaran partai melekat diotaknya, perbedaan antara kaya dan miskin merupakan suatu hal yang menjadi sorotan tajam bagi Karman. Kenapa ia tidak bisa menikah dengan Rifah anak Haji Bakir, apakah karena ia miskin maka tidak dapat bersanding dengan Rifah? Hal itu memenuhi benak Karman, nyatanya Haji Bakir menolak Karman karena ia telat meminang Rifah, karena ada pemuda yang lebih dulu menyatakan lamarannya. 

Situasi ini dimanfaatkan Kawan Margo dan bosnya, Si Gigi Besi dan Truman. Karman diberi pekerjaan sebagai sekretaris partai, dan ajaran partai meresap kuat diotaknya. Ia menyerukan pertentangan terhadap perbedaan kelas yang terjadi di tahun-tahun itu. Ia menjadi kalap, gelisah dan kafir. Sosok Karman yang cerdas dan taat dahulu menguap entah kemana. 

Seperti gambaran sejarah, 1965 merupakan akhir dari komunis di Indonesia, partai Karman dibabat habis, Margo, Si Gigi Besi dan Truman di hukum mati. Karman ketakutan dan kabur mencari perlindungan, hidup di hutan, di kuburan hingga akhirnya tertangkap setelah menderita sakit karena gizi buruk. 

Buku ini pantas sekali dibaca, layak. Seperti karya Tohari sebelumnya, yang mengangkat realita kehidupan kedalam sebuah tulisan. Cerita tentang PKI dan bagaimana kehidupan seorang tahanan politik yang dirundung berbagai masalah ketika dalam pengasingan. 

Worth to read!! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: